Bab 11 Hidup Hanyalah Titipan, Jangan Digenggam Terlalu Erat

Bab 11 Hidup Hanyalah Titipan, Jangan Digenggam Terlalu Erat

Betul banget, siapa yang bisa menjamin? Nafas yang baru saja kita hirup detik ini saja, belum tentu kita masih bisa menghembuskannya lagi dengan tenang sedetik kemudian. Seringkali kita merasa seolah-olah kita yang memegang kendali penuh atas segala hal, merasa hidup ini milik kita sepenuhnya, padahal kenyataannya kita tidak pernah tahu kapan semuanya akan berhenti tiba-tiba. Kita berencana jauh ke depan, menumpuk harta, mengejar jabatan, berdebat mempertahankan gengsi, seolah-olah kita akan tinggal di dunia ini selamanya tanpa pernah berpisah. Padahal nyatanya, takdir itu rahasia Sang Pencipta, bahkan detik selanjutnya pun belum tentu menjadi milik kita.
 
Sadar akan hal ini perlahan mengubah sepenuhnya cara pandang kita menjalani hidup. Dulu kita selalu berpikir bahwa hidup ini adalah sesuatu yang harus dikuasai, harus ditaklukkan, harus kita miliki sebanyak-banyaknya supaya terlihat sukses dan berkuasa. Tapi seiring berjalannya waktu dan semakin sering kita melihat orang pergi mendahului kita, pemikiran itu perlahan luruh. Kita mulai menyadari satu kebenaran sederhana: hidup ini bukan milik kita mutlak, melainkan hanya sebuah titipan yang dipercayakan kepada kita untuk dijaga sebaik-baiknya selama waktu yang ditentukan. Kita hanya pemakai sementara, bukan pemilik mutlak.
 
Kalau kita sudah menyadari bahwa semuanya cuma titipan, maka rasa ingin menggenggam semuanya terlalu erat pun perlahan hilang. Kita tidak lagi memaksakan kehendak kepada orang lain, tidak lagi kecewa berat saat kehilangan sesuatu, dan tidak lagi takut berlebihan menghadapi perubahan. Karena kita tahu, apa yang ada di tangan kita saat ini hanyalah pinjaman yang suatu saat pasti akan diminta kembali. Jadi buat apa dipeluk terlalu kencang sampai menyakiti diri sendiri? Lebih baik dinikmati dengan syukur, dirawat dengan penuh kasih, dan dibagikan kebaikan sebanyak-banyaknya kepada sesama.
 
Hidup jadi terasa jauh lebih ringan dan damai begitu kita melepaskan beban ingin menguasai segalanya. Kita jadi lebih menghargai setiap pertemuan, lebih memaafkan dengan mudah, dan lebih berhati-hati dalam bertindak. Kita menyadari bahwa nilai hidup bukan dilihat dari seberapa banyak yang kita bawa pergi, melainkan seberapa baik kita menjaga amanah titipan itu selama kita masih diberi kesempatan bernafas di dunia ini. Jadi mari kita jalani dengan hati yang lapang, genggam secukupnya saja, sisanya serahkan kepada yang Maha Mengatur, karena kedamaian sejati itu ada saat kita sadar bahwa kita tidak pernah benar-benar memiliki apa-apa selain kebaikan yang kita tanam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 3 (15 Kebiasaan Orang Yang Tahan Banting Banget)

Bab 9 Saat Rapuh, Tetap Semangat Berjuang.

Bab 10 Buang Mental Gratisan, Bangkitlah Berjuang Sendiri