Bab 14 Bukan Apa yang Kita Punya, Tapi Apa yang Kita Lakukan.

Bab 14 Bukan Apa yang Kita Punya, Tapi Apa yang Kita Lakukan.
 
Coba bayangin deh, ada sebuah pisau. Sama persis bentuknya, sama tajamnya, sama besinya. Tapi kalau pisau itu ada di tangan dokter, dia bisa dipake buat operasi, nyelamatin nyawa orang. Tapi kalau pisau yang sama jatuh ke tangan pembunuh, dia bisa dipake buat ngambil nyawa orang. Benda yang sama, cuma beda tangan yang megang, hasilnya bisa beda jauh. Nah, manusia juga gitu kan.
 
Kasih seseorang uang. Di tangan orang yang baik hati, uang itu bisa jadi berkah, bisa dipake bantu orang yang susah, kasih makan yang lapar, bantu yang butuh. Tapi kalau uang itu jatuh ke tangan orang yang sombong dan nggak tahu diri, uang itu malah jadi alat buat pamer, buat ngerendahin orang lain, bikin orang lain merasa kecil dan nggak berharga. Uangnya sama, cuma beda orang yang megang, fungsinya bisa berubah jadi kebalikannya.
 
Kasih seseorang ilmu. Di tangan orang yang rendah hati, ilmu itu jadi cahaya. Dia ajarin orang lain, dia bantu orang lain jadi lebih pintar, dia bagi-bagi pengetahuan biar semua orang maju bareng. Tapi kalau ilmu itu jatuh ke tangan orang yang kepenuhan ego, kepintarannya malah dipake buat merasa paling benar, paling hebat, ngerendahin pendapat orang lain, merasa dirinya paling tinggi di atas siapa pun. Ilmunya sama, cuma beda hati yang megang, dampaknya bisa jadi hancur berantakan.
 
Kasih seseorang kekuasaan. Di tangan orang yang punya nurani, kekuasaan itu jadi pelindung. Dia jaga orang-orang di bawahnya, dia bikin lingkungannya aman dan nyaman, dia bikin orang merasa dihargai dan dilindungi. Tapi kalau kekuasaan itu jatuh ke tangan orang yang kejam, kekuasaan itu malah jadi alat penindasan. Dia sakiti orang, dia semena-mena, dia bikin orang lain menderita cuma buat puasin egonya sendiri. Kekuasaannya sama, cuma beda karakter yang megang, gunanya bisa berubah jadi mimpi buruk bagi banyak orang.
 
Bahkan luka pun sama. Ada orang yang pernah disakiti, pernah dikhianati, pernah jatuh sedalam-dalamnya. Luka itu bikin dia jadi lebih bijaksana, lebih paham perasaan orang lain, lebih lembut hatinya karena dia tahu rasanya sakit. Tapi ada juga orang yang lukanya malah dijadikan alasan buat membenarkan kebencian. "Aku dulu disakiti, jadi aku berhak nyakiti orang lain." Padahal orang yang nyakiti dia bukan orang yang sama dengan yang sekarang dia sakiti. Tapi karena lukanya nggak diobatin dengan benar, dia malah jadi pelanjut rantai kejahatan itu sendiri.
 
Mungkin pada akhirnya, apa yang kita miliki itu nggak selalu mengubah siapa kita. Kadang, apa yang kita miliki itu cuma nampilin siapa kita sebenarnya. Uang itu sendiri nggak punya karakter. Kekuasaan itu sendiri nggak punya hati. Pisau itu sendiri nggak punya niat. Ilmu itu sendiri nggak punya moral. Yang kasih arah, yang kasih sifat, yang kasih tujuan adalah orang yang megangnya.
 
Sebagian dari kita dikasih uang, sebagian dikasih ilmu, sebagian dikasih kesempatan, sebagian dikasih kekuasaan, dan sebagian lainnya mungkin cuma dikasih luka. Tapi dari sanalah karakter mulai berbicara. Bukan uangnya yang bikin orang jadi baik atau jahat, bukan kekuasaannya yang bikin orang jadi pelindung atau penindas, bukan lukanya yang bikin orang jadi bijaksana atau penuh kebencian. Itu semua cuma pemicu. Yang sebenarnya sudah ada di dalam diri kita sejak awal, baru kelihatan waktu kita punya sesuatu.
 
Bukan apa yang kita miliki yang menunjukkan siapa diri kita. Melainkan apa yang kita lakukan waktu akhirnya kita punya sesuatu yang dulu kita idam-idamkan. Kekayaan nggak menciptakan keserakahan, keserakahan itu sudah ada di dalam hati sebelum uang datang. Kekuasaan nggak menciptakan kekejaman, kekejaman itu sudah ada di dalam sifat sebelum jabatan datang. Dan luka nggak menciptakan kebencian, kebencian itu cuma tumbuh di tanah hati yang memang sudah nggak siap menerima pengampunan. Semua itu cuma membuka apa yang selama ini sudah ada di dalam diri kita. Jadi pertanyaannya bukan "apa yang kamu punya?", tapi "siapa kamu waktu kamu memegangnya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bab 20 Sukses Sejati Tanpa Diminta

Bab 13 Jangan jadi orang pertama yang nge-down-in diri sendiri.