Bab 6 Bercermin pada Diri Sendiri.
Bab 6 Bercermin pada Diri Sendiri.
Jadi, menurutmu adalah sesuatu yang wajar apabila kita menilai kesalahan orang lain?
Benar. Menilai memang hal yang lumayan sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita melihat tingkah laku orang lain, mendengar perkataan mereka, menyaksikan perbuatan mereka, dan dengan cepat hati serta pikiran kita mulai memberikan penilaian — ini benar, itu salah, ini baik, itu buruk. Namun hal itu baru menjadi benar-benar wajar dan adil jika kamu sendiri pun mau menerima penilaian orang lain tentang kekuranganmu. Sebab tidak adil rasanya jika kita bebas menunjuk ke arah orang lain sambil menutup mata terhadap diri sendiri, atau jika kita menuntut orang lain untuk sempurna sementara kita sendiri masih banyak kekurangan yang belum diperbaiki.
Sebab kamu itu adalah cermin bagi orang lain, dan orang lain sendiri adalah cermin untukmu. Ketika kamu melihat kelebihan atau kekurangan pada orang di sekitarmu, sesungguhnya kamu sedang melihat bayangan dari apa yang juga ada di dalam dirimu sendiri. Yang membuatmu terganggu pada diri orang lain, sering kali adalah hal yang juga kamu sembunyikan atau kamu tolak dalam dirimu sendiri. Yang membuatmu kagum pada orang lain, sering kali adalah kebaikan yang juga tersimpan dalam potensi dirimu, namun belum sempat kamu wujudkan. Setiap orang yang kita temui adalah seperti sepotong cermin yang memantulkan sebagian dari diri kita yang belum kita kenal, sebagian yang belum kita terima, dan sebagian yang belum kita sempurnakan.
Akhirnya, pada tingkat kesadaran akan Sang Jati Diri, sesungguhnyalah kamu itu sedang bercermin pada dirimu sendiri. Dunia di luar sana hanyalah layar yang memproyeksikan apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita. Jika hati kita penuh dengan kebencian dan kecurigaan, dunia akan terlihat penuh dengan musuh dan penjahat. Jika hati kita penuh dengan kasih sayang dan pengertian, dunia akan terlihat penuh dengan orang-orang yang baik dan layak dihormati. Jadi ketika kamu menilai seseorang, kamu sebenarnya sedang menilai bagaimana hatimu melihat dunia, bagaimana kesadaranmu memahami kehidupan, dan bagaimana dirimu memandang kebenaran.
Dan cermin yang baik tidak lain adalah cermin yang mampu memperlihatkan dengan jujur dan jelas kelebihan serta kekurangan yang ada. Ia tidak memperindah apa yang buruk, tidak pula menutupi apa yang kurang. Ia menunjukkan apa adanya — kelebihan tetap diakui sebagai kelebihan, kekurangan tetap terlihat sebagai kekurangan. Cermin yang baik tidak berbohong, tidak menyanjung, dan tidak menghakimi. Ia hanya memantulkan apa yang ada di hadapannya, sehingga siapa pun yang berdiri di depannya dapat melihat dirinya dengan jelas, tanpa disesatkan oleh bayang-bayang atau bias pandangan.
Mampu menunjukkan sisi pandang yang lain apa adanya, itulah yang memungkinkan tercapainya proses ke arah kesempurnaan. Karena jika kita hanya melihat kelebihan diri sendiri dan kekurangan orang lain, kita tidak akan pernah tumbuh. Kita akan merasa paling benar, paling hebat, paling sempurna, padahal sebenarnya kita sedang berjalan di tempat yang semakin lama semakin sempit. Tetapi jika kita mampu melihat diri kita sebagaimana kita melihat orang lain, dan melihat orang lain sebagaimana kita melihat diri kita sendiri, maka terbukalah jalan menuju pemahaman yang lebih dalam. Kita mulai menyadari bahwa setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan kita semua sedang berusaha tumbuh menuju kebaikan yang sama.
Berani bercermin pada diri sendiri? Berani melihat apa yang sebenarnya ada di dalam sana, tanpa topeng, tanpa alasan, tanpa pembelaan diri? Berani menerima bahwa kamu juga salah, kamu juga lemah, kamu juga belum sempurna — sama seperti orang-orang yang pernah kamu nilai? Menerima kekurangan bukan berarti menyerah atau merasa rendah diri. Justru sebaliknya: hanya dengan menerima kekurangan itu, kita baru bisa mulai memperbaikinya. Hanya dengan melihat luka itu dengan jujur, kita baru bisa mengobatinya.
Dan pada saat yang sama, syukuri kelebihan yang kamu miliki. Jangan meremehkan apa yang baik dalam dirimu, namun jangan pula menjadikannya sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Kelebihan itu adalah anugerah yang harus dijaga dan dibagikan, bukan senjata untuk menindas atau membandingkan. Jadikan kelebihanmu sebagai kekuatan untuk membantu orang lain, dan jadikan kekuranganmu sebagai pengingat untuk tetap rendah hati dan terus belajar.
Jadikan setiap penilaian — baik yang kamu berikan maupun yang kamu terima — sebagai jalan menuju kesadaran yang lebih tinggi. Ketika kamu menilai orang lain, jadikan itu cermin untuk memeriksa dirimu sendiri. Ketika orang lain menilai kamu, jadikan itu kesempatan untuk melihat dirimu dari sudut pandang yang berbeda, yang mungkin tidak bisa kamu lihat sendiri. Penilaian itu tidak harus menjadi senjata yang melukai. Ia bisa menjadi cahaya yang membantu kita melihat lebih jelas, memahami lebih dalam, dan melangkah lebih dekat menuju kesempurnaan yang sejati.
Karena pada akhirnya, kita semua sedang berjalan di jalan yang sama. Kita semua sedang belajar, sedang berusaha, dan sedang berusaha menjadi lebih baik dari hari kemarin. Dan di tengah perjalanan itu, tidak ada yang lebih bijaksana daripada menyadari bahwa ketika kita menunjuk satu jari ke arah orang lain, ada empat jari lain yang menunjuk kembali ke arah diri kita sendiri.
Komentar
Posting Komentar